AKU RELA DIPENJARA ASALKAN BERSAMA BUKU, KARENA DENGAN BUKU AKU BEBAS "MOHAMMAD HATTA"

Sabtu, 15 Januari 2011

“ Tunas Bangsa yang Terabaikan “

Puaannaaaazzzzzz… beuuhhh, inilah cuaca yang bikin malez buat kemana – mana, maunya yaa dirumah ajha angkat – angkat kaki nnton TV sambil ngemil yang ringan – ringan gitu. Tapi mo gimana lagi, aku harus tetep jalan dan berjalan menuju sebuah tempat yang bisa genterin aku naik bus menuju sebuah tempat (tempatnya rahasia doung).
Tiba – tiba nada sms HP ku bunyi, kubaca sebuah informasi penting dan menyenangkan, bahwa aku gak usah pergi hari ini “besok ajhaah” gitu kata smsnya. Mmmmhhhh, senangnya hatiku. Aku pun mulai mangurangi
kecepatan langkahku karna aku ga perlu lagi buru – buru demi on time, (alah bahasa gue…) tapi yang jelas sekarang gimana caranya aku bisa mendapatkan sebotol minuman kaleng untuk memadamkan api dahaga yang sedang menyala hebat ditenggorokanku. Prikitiew (Sule_Red), akhirnya, kutemui sebuah toko kecil (pedagang kaki lima) yang kebetulan jual minuman juga, melihatnya otakku memerintahkan kakiku untuk berjalan lebih cepat karena kebakaran udah makin hebat, beeuuhh.
Mmmhhh, segerrrr. Kebakaran dah padam. Akupun menikmati sisa air putih yang masih ditanganku (beeuuh… ketauan cuman bisa beli air putih, coz ge kere, hihi). Nah, abiz tu biar minumnya lebih serius akupun menuju sebuah taman (taman melati padang_ hihi, ketauan juga tempatnya). Ku teguk minuman dingin itu perlahan, sedikit demi sedikit biar ga terkesan rakus. Tapi, tiba – tiba tepat disamping kananku berdiri sesosok yang buat jantung ku hamper copot karna kaget. Alamak, perlahan ku seka air yang sempat muncret dan berantakan diseputaran my lipst (bibir_hikz). Yang aku maksud bukan sesosok kuntilanak, tuyul, jin ato sebangsanya,,, tapi dia seorang anak kecil dengan pakaian kumal, muka item, jorok, dan kira – kira baru berumur 8 tahun,, “ngament kak” kalimat itu meluncur lirih dari bibir kecilnya, lagu yatim piatu yang dia nyanyikan mulai merayap seperti semut diseluruh tubuhku, membuat saraf – saraf ku seperti disengat lebah ato seperti disengat arus lstrik dengan voltase yang tidak terlalu gede. Dia mendayu dayu seperti seorang yang sedang meratap sedih, beberapa buah tutup minuman botol yang dibentuk pipih terpaku pada sebilah kayu mengalirkan nada yang sungguh bentrok dengan lagu yang dibawakan oleh adik kecil itu, tapi karena suara adik lebih keras dibanding suara musiknya jadi ga terlalu terkesan false. Lebih kurang dua menit adik itupun selesai menyanyikan lagu padang itu, dan berdiri sejenak membuka dompet (bekas bungkus permen_red) dan menadahkannya kearahku sambil mengucapkan “kak”.
Aku tak langsung memberikan uang padanya, kuajak dia duduk disampingku, banyak yang sempt kutanyakan padanya…
Setelah adik itu pergi, setelah kusempat ajak dia makan sepiring gado – gado diapun pergi dengan wajah tersenyum. Sepeninggalnya aku masih saja merenung memikirkannya. Hidup inikah yang kejam?, takdirkah yang kejam?, atau Negara yang kejam?. Logical, seandainya mereka mampu tak mungkin mereka mau menggelandang berpanas – panas dijalanan, pasti mereka akan lebih memilih belajar, sekolah dan dirumah. Tapi karena mereka tak punya pilihan lagi, akhirnya itulah satu – satunya jalan yng menjadi pilihn terkhir. Tak terasa air mataku mengalir, smua sorak gembiraku bersama teman – temanku ternyata diatas derita mereka yang tidak mampu. Sampai kuberpikir, berapa banyak uang yang harus kukumpulkan agar suatu hari aku bisa membantu mereka???
Mereka menjadi dua lhan tuk kita “menjadi lahan dosa, dan menjadi lahan tuk bisa mencari pahala yang sebanyak – banyaknya”. Mulai sekarang, pikirkan kita dan pikirkan mereka. Kalau kita terus – terusan menunggu pemerintah yang bertindak, sampai kapan?. Karna kita semua adalah satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar