AKU RELA DIPENJARA ASALKAN BERSAMA BUKU, KARENA DENGAN BUKU AKU BEBAS "MOHAMMAD HATTA"

Minggu, 01 Mei 2011

“CERITA ORANG TENTANG HIDUPKU”

Kutatap lelah diwajahnya yang mulai tua, kerutan-kerutan kecil itu perlahan mulai terlukis jelas bagaikan garis-garis yang manunjukan bahwa beliau tidak muda lagi, usianya yang sudah setengah abad mambuat beliau  tampak renta, bukan faktor umur yang membuat beliau seperti itu, tampak lebih tua dari umurnya, tapi keadaan yang membuat beliau lebih tua dari umurnya.
      Kubendung air mataku yang ingin keluar perlahan, beliau masih terus melanjutkan pekerjaan rumah yang begitu banyak tanpa harus repot-repot buang energy memanggilku untuk meminta bantuan, beliau hanya membiarkanku tertidur lelap bersama mimpi-mimpiku bahkan walau beliau tau hari sudah hampir siang, matahari sudah berada di ubun-ubun.
      Mataku yang tidak bisa tidur dari semalam karna terus menangis mengingat cerita tetanggaku tentang hidupku dan keluargaku dulu, aku terus terngiang kalimat-kalimat itu. Kalimat yang manyampaikan cerita dan memaksa air mataku untuk terus mebasahi pipiku.
            “kenapa kamu tidak bertanya bagaimana ibumu sebelum kamu ada?”
      Itulah pertanyaan yang memulai cerita tentang hidupku, aku memang tidak pernah bertanya, kupikir semua perjalanan ini akan sama saja tanpa ada perbedaan didalamnya. tapi ternyata tidak, semuanya berbeda dan sangat jauh dari apa yang aku bayangkan.
      “orang tuamu telah melahirkan empat orang anak laki-laki, mereka tak pernah membedakan Tuhan mau ngasi laki-laki atau perempuan, bagi mereka anak itu sama saja, mereka terima walau sudah empat orang laki-laki dan belum memiliki satupun anak perempuan, karna sudah ingin rasanya membelikan baju anak perempuan yang sangat cantik-cantik dipasar, tapi mau bagaimana, mereka tidak punya anak-anak perempuan.
      Waktu terus berlalu, sampai pada akhirnya orang tuamu memiliki enam orang putra, anak laki-laki yang tiap hari berantem diatas rumah. Orang tuamu menyayangi mereka. Tapi tetap mendamba yang namanya anak perempuan, bagaimana mungkin mereka harus marah pada Tuhan, mereka sudah punya enam orang anak tapi semuanya masih saja anak laki-laki. Anak laki-laki bukan berarti tidak diharapkan dalam keluarga, tapi kerinduan dengan kehadiran seorang anak perempuan tentu saja berbeda.
      Kakak kamu yang ke enam sering dibelikan baju-baju yang bernuansa wanita, baju perempuan, ibumu memakaikannya pada abangmu, dan abangmu yang masih kecil tentu saja tidak menolak, toh baju juga kan. Dan sepupu ibumu saat itu juga memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik yang seumuran dengan abangmu yang nomer enam. Ibumu menyayanginya, setiap kali anak itu datang kerumahmu ibumu memanjakannya, menciumnya, memeluknya dan memberikan baju dan makanan enak untuknya.
      Tapi ibumu teluka saat ada tetanggamu yang menertawakannya, menertawakan ibumu yang menyayangi anak perempuan orang lain, memeluk anak perempuan orang lain. Dan ibumu jatuh sakit, lama ibumu sakit sejak ditertawakan seperti itu ditempat ramai. Tapi rasa ingin memiliki seorang anak perempuan masih ada, masih ingin memiliki seorang anak perempuan yang nantinya bisa menggantikannya karna ibumu juga satu-satunya anak perempuan nenekmu.
      Banyak orang dan para tetanga yang menjenguk ibumu yang masih terbaring lemah dengan penyakitnya, air matanya tak henti mengalir, badannya sangat kurus seperti kulit pembalut tulang, rambutnya sudah tidak terurus, tidak mau makan dan tidak mau minum obat. Orang-orang yang berkunjung tidak mendoakan supaya ibumu lekas sembuh, yang mereka doakan “Semoga ibumu cepat punya anak perempuan”
      Mukjizat itu perlahan datang seiring doa dari orang-orang yang mengasihani dan menyayangi ibumu, ibumu pun tak henti berdoa dan meminta, menyampaikan sekian banyak nazarnya pada Tuhan. Berniat akan memberikan apapun permintaan sang anak kalau dia punya anak perempuan, berniat puasa sepuluh hari, berniat potong kambing untuk mendarahi kakinya saat dia berumur dua bulan, membawanya untuk berdoa ditempat yang dianggap suci (Ula’an) dan memotong kambing disana, membuat syukuran dengan potong 15 ekor ayam dirumah orang yang mengobatinya untuk mendapatkan anak perempuan saat anak perempuannya berumur dua tahun.
      Wallahu alam, rencana Tuhan kita memang tak pernah tahu, semua penyakit ditubuh ibumu bagai sembuh saat mendengar tangis pertamamu, saat pertama kali kamu membuka mata dan melihat dunia. Kamu yang terlahir sangat sehat dan berat 4 kg tak membuat ibumu kesakitan walau harus bejuang hampir mati untuk melahirkanmu secara normal ke muka bumi ini. Betapa semua orang bersorak gembira saat mengetahui bahwa ibumu memiliki seorang anak perempuan, semua tetangga jauh dan dekat berhamburan ingin melihatmu yang terlahir dengan begitu lucu, semua ikut bersemangat mencarikan nama terbaik tuk manusia baru yang lama dinantikan, berharap menjadi manusia berakhlak terbaik juga nantinya. Kamu seperti mukjizat yang jadi perbincangan banyak orang, dan bahkan hingga kini kamu masih saja membuat orang kaget setiap melihat kamu telah tumbuh dewasa.
      Bahagia, kami melihat senyum luar biasa diwajah ibumu. Tak ada lagi kata terucap kecuali memelukmu seerat mungkin, menciumimu setiap detik, tak henti memaandangi wajahmu. Kamu seperti cahaya yang masuk dan menerangi kegelapan yang lama menenggelamkan keluargamu dalam kesedihan.
      Kamu jadi anak, adik, dan cucu paling disayangi dan diperhatikan, enam orang kakak laki-laki mu adalah pengawal yang tak boleh sebentarpun meninggalkanmu, pengawal-pengawal yang akan dimarahi nenekmu kalau kamu hilang lima menit saja dari rumah. Kakak-kakakmu begitu menjagamu dengan baik, bahkan saat kamu terluka maka kakak-kakakmu lah yang akan jadi sasaran kemarahan nenekmu, mereka tidak boleh pulang kerumah sebelum kamu ketemu dan bisa membawamu pulang.
      Kamu sangat dekat dengan nenek dan kakekmu, terutama nenekmu, asalkan kamu mau makan sang nenek rela walau harus ikut berlari-lari dan loncat-loncat bersamamu yang asyik main tali bersama teman-temanmu. Kamu dijaga dari segala macam hal, bajumu yang kotor walau sedikit akan segera diganti si nenek, makanmu tak pernah telat, apapun yang kamu minta untuk kamu bisa makan akan beliau masak saat itu juga. Dan kakek, tak pernah mengatakan tidak untuk memberikan permintaanmu, kamu minta uang, baju baru, belanja, semua kakekmu kasih untukmu, kamu memang sangat dekat dengan kakek dan nenekmu, lebih dekat dari pada dengan orang tuamu sendiri.
      Saat kamu berumur empat tahun, nenekmu meninggal. Kamu tau, semua orang menangis terisak saat kamu katakan kalau kamu ingin ikut bersama nenekmu, kamu ingin pergi bersamanya, kamu tak ingin berpisah dengan nenekmu. Ibumu memelukmu, kedekatanmu dengan nenekmu bukan karna ibumu tidak menyayangimu, tapi karna orang tuamu sibuk bekerja untuk menghidupi kalian yang saat itu sudah delapan orang, termasuk adik laki-lakimu yang masih kecil.
      Kini kamu sudah tumbuh dewasa, kamu pasti sudah tau bagaimana harusnya kamu, kamu tidak seperti dulu lagi yang cukup nakal sebagai anak perempuan. Kamu yang dulu tidak pernah menyukai pakaian anak perempuan kini telah menjadi wanita seutuhnya, kamu yang dulu sangat laki-laki kini telah bisa berbicara seperti seorang wanita seutuhnya. Semua orang memahamimu, kamu yang tumbuh dalam keluarga yang mayoritas laki-laki memang membuatmu tumbuh seperti seorang laki-laki. Walau dari dulu kamu tidak pernah menyukai yang namanya rambut pendek tapi sikapmu itu yang sangat tomboy.
      Kemanapun kamu pergi dan melangkah lebih jauh dari orang tuamu tak pernah sekalipun mereka yang merasakan ketenangan, selalu meneteskan air mata seiring langkahmu, selalu bersedih karna tak bisa melihat kamu tertawa, melihat kamu yang masih tertidur pulas bahkan walau matahari sudah diubun-ubun, melihat kamu yang ketiduran didepan TV karna keenakan nonton sampai tengah malam, mendengar suaramu yang bernyanyi treak-treak dikamar mandi, melihatmu makan dengan malas, melihat kamu yang dengan pandai mengisi ceramah agama diatas mimbar mushala kita, mendengar kamu membaca Al quran setiap habis shalat magrib, mendengar kamu menasehati dua adikmu yang suka berantem, dan selalu ingin melihatmu ada dan belari-lari diatas rumah.
      Kamu pasti bisa rasakan betapa sayangnya keluargamu padamu, kakak-kakakmu, adik-adikmu dan terutama kedua orang tuamu. Jangan sampai kamu tega membuat mereka semua terluka walau dengan luka sekecil apapun. Kamu tak pernah tau cerita hidupmu karna ibumu tak pernah menceritakannya padamu, mereka hanya tidak ingin kamu menjadi anak yang angkuh dan menyebut-nyebut nazar-nazar ibumu dan orang-orang yang mendoakanmu. Mereka ingin kamu jadi anak yang hebat dan kuat”
      Aku menangis, cerita itu merobohkan dinding-dinding hatiku, aku ingat kalau aku telah sering melukai orang-orang yang mengharapkan kehadiranku itu, orang tua, dan abang-abangku.
Kini, aku telah dewasa, bahkan orang tuaku masih belum mau menceritakan perjalanan hidupku, beruntung orang lain menceritakannya padaku sehingga aku tau kenapa mereka begitu ketakutan saat kukatakan aku sakit, mereka sangat cemas saat aku mengatakan aku harus pergi jauh, mereka menangis melihat aku yang terluka, mereka sanggup berbuat apapun untuk buatku tetap tersenyum bahagia.
      Betapa berartinya aku bagi orang-orang yang menyayangiku, tapi aku pernah terlena dan sibuk dengan urusanku sendiri, sibuk dengan orang lain yang bisanya melukaiku tanpa mengahargai pengorbananku. Aku bersalah karna pernah berniat meninggalkan orang-orang yang menyayangiku hanya untuk pergi sejenak mengobati luka dihatiku, luka yang digoreskan dengan janji-janji palsu oleh orang yang aku sayangi.
      Ini kisahku, tak terlepas dari apa-apa yang pernah mampir dan berhenti sejenak dalam hidupku, kan kubawa kisah ini kemanapun aku pergi. Dan dalam hati aku berjanji bahwa kisahku takkan jadi boomerang yang bisa menyakiti orang-orang yang berharap kehadiranku dimuka bumi ini.
      Abang-abangku, betapaku mengerti arti kasih sayang karna aku memiliki kamu semua, betapa aku harus masih banyak belajar saat kamu semua mangajarkan aku arti kegigihan untuk terus berusaha dan  bisa, betapa aku mengerti bahwa saudara adalah orang yang harus kita sayangi dan tidak boleh mengatakan tidak untuk menitipkan senyum bahagia yang abadi dibibirnya.
      Tuhan, kisah hidupku adalah juga rencanamu yang tak lepas dari scenario buatanmu, aku syukuri semua yang pernah terjadi dalam perjalananku, termasuk semua luka yang mangajarkan aku bahwa usaha untuk bahagia itu memang perlu, dikecewakan dan aku mengerti bahwa kesabaran itu juga sangat perlu. Tuhan, seperti apapun aku dimata orang lain dan dunia ini, aku hanya ingin jadi yang terbaik bagiMu.
      Teman, Ini kisahku, kisah hidup hingga kini aku telah tumbuh dengan umur 21 tahun, satu bulan lagi aku meninggalkan usia ini, jatah hidupku akan berkurang satu tahun lagi. Aku ingin Tuhan beriku waktu tuk bisa jadi orang yang bener-bener harapan keluargaku selama ini.
      Temen, coba ingat kembali bagaimana kisahmu!, penting atau tidaknya ini bagimu, tapi ini harapan semoga kita semua menjadi manusia yang berfikir.
Wassalam… ((Wira Juwita MJ Chan / 25.05.1989_13.00 WIB_4 kg)) ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar