AKU RELA DIPENJARA ASALKAN BERSAMA BUKU, KARENA DENGAN BUKU AKU BEBAS "MOHAMMAD HATTA"

Rabu, 15 Oktober 2014

BUNDA

Minggu 25 mei 2014, inilah hari ulang tahunku, hari ini tepat usiaku 25 tahun, sudah tua, kata ibuku sudah seperempat Abad aku hidup dan di jaga olehnya. hari ini jugalah tepat 25 hari aku meninggalkan Sumatera Barat ranah minang tanah yang slalu ku rindu. meninggalkan ibuku, meninggalkan ayahku, meninggalkan, adik, kakak dan saudara.

Aku berangkat ke tanah melayu meninggalkan Ranah minang, kali ini denga izin kedua orang tuaku, dengan restu beliau lah kaki ini ku langkahkan. walau saat berpisah ibuku menangis
memelukku seakan tak ingin berpisah jauh, dan ayahku yang menggenggam tanganku lama seakan enggan melepas kepergianku tapi aku tetap berusaha kuatkan hatiku, ini demi pelajaran hidup, belajar jauh dari orang tua, belajar mandiri dan belajar sendiri, belajar lebih kuat dan lebih tegar dengan semua kejadian dalam kehidupan ini.

Sabtu, 24 mei 2014, air mataku mengalir begitu saja, menangis tanpa sebab, rasa rindu yang membuncah buatku tak kuasa menahan air mata yang mengalir, aku rindu ibuku, sangaaaaat rindu, entah kenapa perasaan ini tiba-tiba datang, belum lagi mimpi yang datang 3 hari yang lalu terus mengusikku, mimpi di nikahkan oleh adik kandung ibuku tanpa ada kedua orang tuaku disana. aku terus berusaha berpositive thinking, mencoba untuk tidak menghiraukan mimpi yang mungkin hanya bunga tidur itu. tapi hati tak kuasa lagi, hingga akhirnya kuputuskan untuk menelpon ibuku dengan air mata yang terus mengalir. 3 kali panggilan tapi ibuku tak mengangkat telponku, hingga akhirnya kuputuskan untuk menelpon lagi besok pas hari ulang tahunku.

ya hari dimana tepat usiaku 25 tahun, doa yang mengalir dari beliau, yang kali ini langsung kudengar, walau doa beliau tiada pernah henti untukku, yang selama ini hanya dalam shalat saja tanpa kutahu doa apa yang beliau kirim untukku, kali ini berbeda. semoga aku bahagia, semoga aku segera bertemu jodoh yang baik, yang menyayangiku, yang mencintaiku, yang setia, dan yang menjagaku, semoga, aku slalu diberi kesehatan, jaga diri baik-baik, jaga iman dan jaga kehormatan.. itulah yang beliau sampaikan di hari ulang tahunku yang ke 25

besok harinya senen aku tak berkomunikasi sama sekali dengan ibuku dan selasa, 27 mei 2014 sore aku sedang berkumpul dengan temanku disebuah acara, saat ribut oleh suara teman-teman panggilan ibuku masuk, aku angkat tapi ibuku langsung mematikan telpon, sepertinya beliau memintaku menelpon balik, aku pun mengulang panggilan ke beliau, tapi nomer beliau malah sibuk, akhirnya ku layangkan sms dengan bilang nanti abis magrib pas pulang aku telpon balik.

saat sampai dirumah, abangku memberikan telpon genggamnya padaku sambil memintaku menghubungi ibuku, akupun menerima telpon itu dan menghubungi ibuku, tapi ayahku yang mengangkatnya, kata ayah ibu pergi ke mesjid shalat magrib, nanti telpon lagi abis isya, karna ibu biasanya pulang abis shalat isya.

sekitar jam 20.00 wib kupikir ibuku sudah selesai shalat, aku pun memencet panggilan keluar dan menghubungi nomer ibuku, tapi nomer beliau sibuk saat ku matikan langsung masuk panggilan dari ibuku, ternyata yang menelpon adik perempuanku. dengan suara serak parau dan menangis dia katakan ibuku jatuh didepan kamar mandi dan mulutnya mencong "Astaghfirullah, ibuku kena stroke". aku langsung menangis meminta adikku mencari pertolongan keluar.

tak sanggup kulapaskan dengan kata, teriakan kuat mencengkam seisi rumah, saat kabar dari kampung mengabari ibuku telah tiada saat jam dinding menunjukan pukul 23.00 wib. rasa tak percaya dan marah, tak terima dan kecewa becampur jadi satu, janjiku tanggal 28 akan mengiriminya obat tensi dan obat diabetes yang biasanya memang aku sediakan, tapi sejak aku pergi beliau kerepotan tanpa ada aku, sering lupa minum obat dan sering lupa kalau obatnya sudah habis.

Tuhan, 27 Mei 2011, tepat umurku 25 tahun 2 hari, engkau jemput ibuku, seorang ibu berhati mulia yang belum sempat kuberi bahagia, seorang ibu yang berjiwa besar yang permintaan terakhirnya belum sempat aku kabulkan, seorang ibu yang memiliki kasih selembut sutra yang belum sempat ku peluk dan kucium lebih lama.

matanya yang terpejam, bibirnya yang tersenyum, terbujur tanpa bicara, aku menangis meratap didepan jasadnya sambil memeluk ayahku tercinta. aku tak sanggup Tuhan, saat itu aku benar-benar tak sanggup, belum puas rasanya hidup berdampingan dengan beliau, belum puas rasanya belajar kehidupan dari beliau, belum  puas rasanya memanggilnya dan merindukannya.

Tuhan, tiada yang bisa kusampaikan untuknya, kecuali doa terindah yang akan slalu ku panjatkan semoga beliau berada ditempat terindah disisi-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar