AKU RELA DIPENJARA ASALKAN BERSAMA BUKU, KARENA DENGAN BUKU AKU BEBAS "MOHAMMAD HATTA"

Selasa, 13 Maret 2012

IBU, Bila Air Mata Ini Mulai Mengalir, Itu Karna Aku Sedang Merindukanmu T_T



Anda meninggalkan kabupaten Pesisir Selatan,, tulisan digerbang batas kota itu menyemangatiku untuk terus melaju bersama skuter Meongku,hatiku terus bernyanyi seiring Mp3 yang terhubung lewat handsfree ketelingaku. Ada sedikit resah disepanjang perjalananku, sebenarnya disetiap perjalanan aku meninggalakn rumahku, kedua orang tua dan satu adik perempuanku yang sangat manis.



Sekilas kulihat sebuah Taman kanak-kanak yang di dinding bangunannya terdapat sebuah gambar sang ibu membimbing anaknya, aku sempatkan tersenyum saat sempat membaca tulisan dibawah gambar mozaik yang terukir indah didinding tua sekolah anak umur 4 tahun itu “Ibu, surga dibawah telapak kakimu”

Instrumental yang mulai mengaum ditelingaku membangkitkan emosiku untuk meneteskan air mata saat kusadar kalau aku meninggalkan ibuku dalam keadaan yang kurang sehat. Kutak sempat seka air mataku karna wajahku tertutup helm.air mata ini makin luruh mengingat hipertensi yang dideritanya,diabetes dan vertigo yang sering mandadak muncul membuatnya berteriak memanggil namaku T_T

Aku terus berlari kembali mengingat betapa aku tak bisa hidup kalau beliau tidak ada bersamaku,, saat beliau cemas menghadapi perjalananku, dengan wajah takut beliau berkata “Hati-hati ya nak,,kalau sampai jangan lupa telpon” sambil perlahan melepas tas yang aku sandang seakan tak ingin aku pergi, dan kalau aku bersama adik laki-laki ku yang tampan, beliau akan berpesan “Hati-hati ya nak,, jaga adik, jangan ngebut,, kalau sampai jangan lupa telpon”,, dan kami akan tersenyum semangat menunjukan betapa beliau tak usah ragu, karna Allah akan melindungi perjalanan kami,kami terus menampakan wajah bersemangat walau sebenarnya kami juga risau saat harus meninggalkan beliau dirumah bersama ayah dan adik perempuanku yang sangat sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Disaat aku jauh dan terbangun dari tidur oleh alarm ku yang brisik, aku takkan langsung duduk dan menuju kamar mandi untuk berwudhuk. Aku teringat ibuku,,beliau yang tau kalau aku akan sulit tertidur kalau lampu kamarku mati,beliau akan setia menungguku hinggaku tertidur,setelah aku telah benar-benar nyenyak beliau akan masuk kamar dan memastikan selimutku tidak terjatuh ke lantai, beliau tau, aku akan terbangun kalau terlalu lama tidur tanpa selimut,kemudian beliau mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu belajar yang nyala apinya lebih kecil, beliau merapatkan pintu kamar perlahan dan baru kemudian beliau pun berangkat tidur.

Fajar  telah datang, Adzan subuh pun berkumandang di Mushala disebelah rumahku, beliau kembali masuk kamar dan membangunkanku,terus membangunkan sampai aku bener-bener bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk berwudhuk. Seperti saat aku masih kecil dulu,beliau slalu menawarkan aku untuk ikut ke Mushala untuk shalat berjamah,dulu aku slalu ikut,dan saat orang mulai membacakan doa aku kan berlari pulang untuk nyambung tidur sebentar sebelum masuk jam sekolah. Sekarang beliau masih slalu mengajakku, tapi aku terlalu pemalas untuk keluar rumah sepagi itu,aku gampang masuk angin,dan beliau setuju kalaupun aku harus shalat dirumah saja.

Jam stengah 6 pagi,ada suara seorang wanita yang sangat aku cinta membaca Alquran terdengar dari TOA Mushala,suara itu sering membuatku terbangun,mengajakku untuk membaca Alquran juga bersamanya, karna dulu waktu kecil, kalau aku tidak kabur saat shalat selesai, aku akan duduk disamping beliau dan membaca Alquran bersama dengan suara terbata-bata.

Jam  6 beliau pulang dari Mushala dan membuka semua pintu jendela,membuka gorden dan pintu depan, terakhir beliau akan membuka jendela kamarku,sehingga aku harus bergeser ke dinding untuk menghindari cahaya yang masuk menerobos kelopak mataku,,beliau selalu menawarkanku untuk bangun,tapi tidak memaksa karna beliau tau kalau aku sudah shalat subuh,jadi aku tidak mungkin berbohong tentang shalatku. Aku slalu ngomel tiap kali jendela itu dibuka dan adik perempuanku yang cantik itu akan tertawa sambil bersiap-siap berangkat sekolah. Aku tak suka dibangunkan dalam keadaan mengantuk, tapi jendela itu akan tetap beliau buka, katanya, membuka jendela dan pintu-pintu dipagi hari sama artinya dengan membukakan pintu rezky yang baik, yang segar sesegar udara dipagi hari, yang slalu membuatku angkat selimut.

Jam 8 beliau akan kembali kekamarku untuk bertanya aku ingin makan apa biar dimasakin,aku slalu bilang apa aja asal enak, tapi beliau akan kembali bertanya karna beliau tak mau aku berkicau didapur karna makanan tidak seperti yang aku mau, dan dipertanyaan kedua aku akan bilang sambel cumi,gulai telor,gulai tempe,ayam lado hijau,ayam kecap, atau sambel udang.asal salah satunya,aku tak akan mengomel. Dan kemudian beliau akan pergi kepasar dan memaskaknnya untukku.kalau aku tidak mrespon pertanyaan beliau biasanya beliau akan berinisiatif sendiri,memasakkan dua butir telor karna beliau tau aku takkan setuju dapat jatah satu, dan beliau tau,aku suka sekali kuning telor itu separo matang,atau direbusnya saja,kemudian terserah mau aku makan pakai kuah atau lado merah goreng.

Beliau tak pernah lupa sarapan pagiku,sepiring lontong pecel atau sebungkus sate yang dijual deket SMP ku dulu,satu-satunya sate yang aku suka dan aku akan tau kalau sempat dikibulin dengan sate yang lain. Jam 10 aku akan bangun karna beliau telah kembali membangunkanku untuk segera makan sarapan pagiku yang sudah disiapkan sejak jam 8 tadi. Aku akan duduk dan menyambar sarapan pagi dengan kebiasaan elitku,ga mandi,ga gosok gigi, menurutku gosok gigi sebelum tidur itu udah cukup,kecuali kalau aku harus dinas pagi tentu harus mandi dan gosok gigi baru bisa sarapan.

Selesei sarapan aku akan berpindah sebentar ke depan TV dan ngmbil chanel tuk menyaksikan acara music favoritku,yang biasanya Host nya ROL,sekarang gado-gado gak jelas. Tapi aku tetep suka,karna beberapa saat kemudian aku kan kembali tidur diikuti gelengan kepala ibuku yang hanya tersenyum melihatku. Tak Cuma beliau,semua abang-abangku gak akan komentar dengan kebiasaan libur yang seperti ini,karna beliau tau,saat aku pulang,saatnya aku beristirahat dari segala kesibukanku.

Ibu, kisah cintaku tak pernah indah,aku sering menangis karnanya. Tapi beliau slalu ingin tahu, beliau slalu setia mendengarkan curahan hatiku,beliau akan ikut tersenyum dan tertawa saat aku bercerita tentang pujaan hatiku. Beliau slalu minta dikenalkan, beliau ingin tahu siapa laki-laki yang telah membuatku bisa bahagia dan tersenyum itu. Walau akhirnya dilain cerita aku akan menangis dan menceritakan tentang keretakan hubungan ku dengan sang pujaan hati. Tapi beliau tidak marah, dengan tersenyum dan mengusap air mataku beliau akan bilang “cup,,jangan menangisi yang bukan jodoh kita nak,,wanita baik itu diciptakan untuk laki-laki yang baik pula ^_^ ‘’

Adikku, dia tak jarang merasa diabaikan,dia mungkin tak pernah tau kalau seorang ibu takkan pernah membedakan kasih sayangnya. Tapi dia slalu merasa dianak tirikan, aku bahkan pernah membaca buku hariannya,, katanya ibuku lebih sayang pada kakaknya, padaku. Hmmm, mungkin gadis kecil yang hebat ini tak pernah tau kalau aku juga syirik padanya. Terkadang dia seperti mengikuti jejakku, aku yang dulu suka mengisi ceramah agama dan berdiri diatas mimbar,kini dia juga sama, aku yang slalu jadi pembawa acara-acara yang diadakan di mushala, kini dia pun sama,dan dia, dia malah menjadi anggota rabana, aku yang tak pandai memainkannya,dia bisa menari tarian adat dan aku Cuma bisa dance modern,dia menekuni banyak olah raga dan aku sangat suka menonton dan membaca,atau menulis, dan dia pun mulai merebut kebiasaan ini dariku. Dia juga punya banyak teman dan yang paling penting dia sedikit lebih bisa berdandan ketimbang aku,tak jarang aku tertawa melihat tumpukan koleksi bandonya diatas lemari.

Ibu, dia telah berikan aku lingkungan yang hebat,adik-adik yang sangat aku sayang dan menyayangiku serta abang-abang yang juga sangat menjaga dan sangat sayang padaku. Ibu, bagaimana mungkin aku bisa beridiri tanpa topangan kakinya, bisa meraih tanpa uluran tangannya, bisa tertawa tanpa dia tersenyum bersamaku, dan aku tidak akan berarti apa-apa pabila dia jauh dan meninggalkanku.

Tuhan,seperti apapun dia dimata dunia, tapi bagiku beliau lebih berarti dari satu dunia. Biarkan aku sempat membahagiakannya, sempat buatnya tersenyum,hinggaku bisa buatnya tersenyum sampai helaan nafas terakhirnya

Ibu, bila air mata ini mulai mengalir, itu karna aku sedang merindukanmu T_T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar